Jumat, 22 Februari 2008

W4NIET4 W4NIET4 P3ND4KIE T4NGG4



Seperti ikut menyambut Hari Kartini, Majalah Fortune, 16 April 1988. memuat karangan berjudul "Why Women Aren't Getting to the Top?" Ditulis oleh seorang wanita, karangan itu memberi gambaran tentang kemajuan kaum wanita AS dalam persamaan haknya untuk mendaki tangga karier.

Di AS, sejak diundangkanya Equal Employement Opportunity Act pada 1972, perusahaan-perusahaan semakin memperhatikan hak-hak kaum minoritas. Bila ada dua pelamar dengan kualifikasi yang sama, seorang kulit hitamdan seorang kulit putih, maka pelamar kulit hitamlah yang diambil. karena perusahaan takut dianggap melanggar ketentuan itu. Kalau seorang manajer wanita jatuh cinta kepada manajer pria pada kantor yang sama, maka manajer pria itulah yang akan diminta pindah kerja. Juga karena tidak ingin dianggap melakukan diskriminasi.
Tetapi, kenyataan, dari 500 perusahaan yang dianggap top oleh Fortune, hanya ada seorang wanita cjief executive officer. Ia adalah Katharine Graham, yang memimpin surat kabar The Washington Post. (Peringkat 342). Tapi Katharine sendiri mengakui, jabatan itu diperoleh karena keluarganya memiliki bagian saham terbesar di Perusahaan itu.
Untuk mencapai jenjang tertinggi, memang ada beberapa penghambat. Atasan jarang memberi tugas sulit kepada wanita. Kalau ada krisis di tapal batas, panglima tidak akan mengirim kowad, tetapi pasukan komando. Atasanpun akan ragu-ragu untuk mengirimkan wanita ke pusat latihan. Tahun ini hanya ada empat wanita yang dikirim perusahaannya ke Howard Business School untuk mengikuti Advanced Management Program yang terkenal itu. "Buat apa mengirim wanita ke Training semahal itu bila sebentar lagi mereka keluar karena menikah dan mempunyai anak?" kata seorang kapten industri.
Memang sudah banyak contoh wanita karier yang berhenti ditengah jalan karena kedua hal itu. menikah dan mempunyai anak. Sebuah studi menunjukan, 37% wanita kembali bekerja dua bulan setelah melahirkan. 68.5% kembali setelah 4.5 bulan, 87% kembali bekerja setelah delapan bulan. Diperkirakan lebih dari 10% tidak kembali sama sekali. Karena itu, ketika Karol Emmerich, seorang akuntan pada Dayton Hudson Corp. mulai hamil, Manajemen justru menaikan pangkatnya menjadi treasurer agar ia pasti kembali setelah melahirkan karena jabatan sepenting dan setinggi itu.
Hal lain yang dianggap sebagai kelemahan wanita bagian wanita yang dianggap kurang tegas. Wanita banyak dianggap terlalu banyak cekikikan. Akan hal ini Nyonya Rukmini Zainal Abidin berpendapat memang wanita karier dinilai dari sikapnya. "Kalau ia bersikap sebagai orang terhormat, Iapun pasti akan dihormati," katanya. Direktur sembilan Perusahaan ini tidak kurang tegas, Ia bisa menggebrak meja, bahkan didepan orang asing yang dibawahkannya. Tetapi Ia juga bisa berkata "Please be so kind to my company." Menurut dia, hal seperti itu justru sulit dilakukan oleh kaum pria.
Harus diakui bahwa wanita memang mempunyai masalah khusus. Tetapi tidak banyak perusahaan yang secara sadar melakukan program untuk membantu karyawan wanitanya mengatasi masalah khusus itu. Sebuah perusahaan supermarket AS menyelenggarakan pertemuan-pertemuan bagi karyawan wanitanya, untuk membicarakan masalah manajemen keuangan rumah tangga, perawatan bayi dan lain-lain. Di Indonesia perusahaan farmasi Konimex melanggankan majalah Balita bagi karyawannya untuk menyuluhi karyawan wanita dan istri karyawan pria.
Banyak pula wanita AS yang lalu mengingkari kodratnya dengan harapan dapat meneliti hingga jenjang karier hingga tingkat teratas. "Saya tidak menaruh potret anak-anak di meja kerja saya. Sayapun tidak pernah menolak pekerjaan diluar kota sekalipun sebenarnya hati saya menangis "Kata seorang konsultan wanita.
Penelitian menunjukan, 52% dari eksekutif wanita tidak menikah, telah bercerai atau janda. 61% menikah tetapi memutuskan untuk tidak mempunyai anak.
Wanita seharusnya memang tidak perlu memikirkan soal persamaan haknya. Yang penting, mereka harus berpikir apakah pekerjaan yang dilakukannya adalah jalur yang tepat untuk meningkatkan kariernya. Si cantiex Jenifer Beals dalam Flashdance menjadi tukang las. Ia tentu akan sulit menjadi foreman dalam jenis pekerjaan itu. Dan hal itu tidak perlu dianggap sebagai Stereotyping dan sextyping.

0 komentar: